PENDAHULUAN
Bronkopneumonia lebih sering menyerang bayi dan anak kecil. Hal ini dikarenakan respon imunitas mereka masih belum berkembang dengan baik. Tercatat bakteri sebagai penyebab tersering bronkopneumonia pada bayi dan anak adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae.1,2
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada Balita di Indonesia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1986 menunjukkan bahwa ISPA merupakan 42,4% dan angka kesakitan pada bayi dan 40.6% pada anak usia 1-4 tahun. Dan semua penyebab kematian karena ISPA pada bayi adalah 12.4% dan pada usia 1-4 tahun adalah 8.4%. Sedangkan menurut SKRT tahun 1992 ISPA menempati urutan pertama penyebab kematian bayi yaitu 36%, dan pada anak 1-4 tahun merupakan penyebab kematian kedua setelah diare yaitu 17%. Dan seluruh penderita di Unit Rawat Jalan di Bagian Anak pada bebempa rumah sakit di Indonesia. ISPA merupakan penyakit utama yaitu di Palembang 40.8%. Manado 43,2% dan Semarang 64.5%. Angka ini tidak jauh berbeda dengan data penderita rawat jalan di Pus kesmas yaitu ISPA merupakan 40-60% dan seluruh penderita.3
Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang menjadi masalah di berbagai negara terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan di Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi pada anak di bawah umur 2 tahun. Pneumonia menyebabkan lebih dari 5 juta kematian pertahun pada anak balita di negara berkembang.4
Anak dengan daya tahan terganggu akan menderita bronkopneumoni berulang atau bahkan bisa anak tersebut tidak mampu mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Selain faktor imunitas, faktor iatrogen juga memacu timbulnya penyakit ini, misalnya trauma pada paru, anestesia, pengobatan dengan antibiotika yang tidak sempurna. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan yang mencolok walaupun ada berbagai kemajuan dalam bidang antibiotik. Hal di atas disebabkan oleh munculnya organisme nosokomial (didapat dari rumah sakit) yang resisten terhadap antibiotik. Adanya organisme-organisme baru dan penyakit seperti AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yang semakin memperluas spektrum dan derajat kemungkinan terjadinya bronkopneumonia ini.1
Asma merupakan penyakit respiratorik kronik yang paling sering ditemukan, terutama dinegara maju. Penyakit ini pada umumnya dimulai sejak masa anak-anak. Asma merupakan suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu yang meyebabkan peradangan. Biasanya penyempitan ini sementara, penyakit ini paling banyak menyerang anak dan berpotensi untuk menggangu pertumbuhan dan perkembangan anak.5 Nelson mendefinisikan asma sebagai kumpulan tanda dan gejala wheezing (mengi) dan atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut: timbul secara episodik dan atau kronik, cenderung pada malam hari/dini hari (nocturnal), musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik dan bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien/keluarganya, sedangkan sebab-sebab lain sudah disingkirkan.6
Serangan asma bervariasi dari yang ringan sampai yang berat dan mengancam kehidupan. Berbagai faktor dapat menjadi faktor pencetus timbulnya serangan asma, dimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi prevalensi asma, terjadinya serangan asma, berat ringannya serangan, status asma dan kematian karena penyakit asma.5
Penelitian epidemiologi di berbagai negara mengenai prevalensi asma menunjukkan angka yang sangat bervariasi. Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 8-10% pada anak dan 3-5% pada dewasa, dan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 50%. Pada usia kanak-kanak terdapat predisposisi laki-laki : perempuan adalah 2 : 1 yang kemudian menjadi sama pada usia 30 tahun.7
Konsep terkini patogenesis asma yaitu asma merupakan suatu proses inflamasi kronik yang khas, melibatkan dinding saluran respiratorik, menyebabkan terbatasnya aliran udara dan peningkatan reaktivitas saluran napas. Hiperreaktivitas ini merupakan predisposisi terjadinya penyempitan saluran respiratorik sebagai respons terhadap berbagai macam rangsangan. Gambaran khas adanya inflamasi saluran respiratorik adalah aktivasi eosinofil, sel mast, makrofag, dan sel limfosit T pada mukosa dan lumen saluran respiratorik. Perubahan ini dapat terjadi meskipun asmanya tidak bergejala. Permunculan sel-sel tersebut secara luas berhubungan dengan derajat beratnya penyakit secara klinis.5
Pelayanan kesehatan anak terpadu dan holistik adalah pendekatan yang paling tepat dalam penanganan penyakit asma. Hal ini meliputi aspek promotif (peningkatan), preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan) dan rehabilitatif (pemulihan) yang dilaksanakan secara holistik (paripurna) untuk mencapai tumbuh kembang anak yang optimal.5
Anamnesis Utama
(diberikan oleh ibu penderita)
Sesak dialami oleh pasien sejak kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit. Sesak tidak disertai dengan bengkak pada wajah atau kelopak mata, atau bengkak pada kedua tungkai, juga tidak disertai kebiruan pada ujung jari maupun mulut. Sesak bertambah berat pada malam hari dan bila penderita dalam posisi berbaring, sehingga penderita dalam posisi duduk. Demam dialami penderita sejak kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit. Demam teraba tinggi dan turun bila diberi obat penurun panas, kemudian demam timbul lagi. Demam tidak disertai dengan kejang maupun penurunan kesadaran, dan tanpa menggigil. Pada saat demam tidak ada riwayat keluar darah dari hidung maupun telinga, juga tidak ada perdarahan gusi atau bintik-bintik merah di kulit. Batuk juga dialami oleh penderita kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit. Batuk berlendir dan lendir sukar dikeluarkan. Mual dan muntah disangkal.
Buang air besar dan buang air kecil biasa.
Anamnesis Ante Natal dan Kelahiran
Selama hamil ibu penderita melakukan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas terdekat secara teratur sebanyak sembilan kali dan mendapat imunisasi Tetanus Toxoid satu kali. Selama hamil ibu penderita dalam keadaan sehat. Penderita lahir di Puskesmas ditolong oleh bidan secara spontan dengan letak belakang kepala, cukup bulan, langsung menangis, dengan berat badan lahir 3300 gram.
Penyakit yang sudah pernah dialami
Morbili : (-)
Varicella : (-)
Pertusis : (-)
Diare : (-)
Cacing : (-)
Batuk/pilek : (+)
Penderita pernah dirawat di RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou Manado dengan diagnosis Malaria pada tahun 2009. Penderita mempunyai riwayat asma sebelumnya tiga bulan lalu. Penderita juga mempunyai riwayat alergi debu.
Kepandaian dan Kemajuan
Pertama kali membalik : 4 bulan
Pertama kali tengkurap : 4 bulan
Pertama kali duduk : 5 bulan
Pertama kali merangkak : 6 bulan
Pertama kali berdiri : 10 bulan
Pertama kali berjalan : 12 bulan
Pertama kali tertawa : 4 bulan
Pertama kali berceloteh : 5 bulan
Pertama kali memanggil mama/papa : 8 bulan
Anamnesis Makanan
ASI : lahir – 2 tahun
PASI : lahir – 6 bulan
Bubur susu : 6 bulan – 8 bulan
Bubur saring : 8 bulan – 12 bulan
Bubur lunak : 12 bulan – 18 bulan
Nasi lembek : 18 bulan – sekarang
Riwayat Imunisasi
BCG :1x
Polio : 3x
DPT : 3x
Campak : 1x
Hepatitis : 2x
Riwayat keluarga
Ayah penderita berusia 37 tahun, pekerjaan wiraswasta dengan pendidikan terakhir SMA. Ibu penderita berusia 36 tahun, pekerjaan wiraswasta dengan pendidikan terakhir SMA. Penderita merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Kakak kedua penderita meninggal umur 9 tahun karena kecelakaan. Kakak penderita pernah menderita asma.
Keadaan Sosial, Ekonomi, Kebiasaan dan Lingkungan
Penderita tinggal dirumah permanen, beratap seng, berdiding beton, berlantai tehel, terdiri dari 3 buah kamar tidur, dihuni oleh 2 orang dewasa dan 2 orang anak. Kamar mandi dan WC didalam rumah, sumber air minum dari sumur, sumber penerangan listrik PLN, dan penanganan sampah dibuang dan dibakar.
Pemeriksaan Fisik
Berat badan : 13 kg
Panjang badan : 93 cm
Keadaan umum : tampak sakit
Kesadaran : compos mentis
Gizi : baik
Tanda vital : T = 90/60 mmHg, N = 132 x/menit,
R = 48 x/menit, S = 38,60C.
Kulit : warna kulit sawo matang, effloresensi, pigmentasi, jaringan parut dan edema tidak ada, lapisan lemak cukup, turgor kembali cepat, tonus otot normal.
Kepala : bentuk mesosefal, ubun-ubun besar menutup, rambut hitam tidak mudah dicabut.
Mata : mata tidak exophthalmus atau enophthalmus , tekanan bola mata normal pada perabaan, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, refleks kornea +/+ normal, pupil bulat isokor ø 3mm-3mm, refleks cahaya +/+ normal, lensa jernih, fundus dan visus tidak dievaluasi, gerakan normal, mata tidak cowong , air mata (+).
Telinga : sekret tidak ada
Hidung : septum tidak deviasi, epistaksis tidak ada, sekret tidak ada, PCH (+)
Mulut : bibir tidak sianosis, lidah kotor tidak ada, gigi tidak karies perdarahan gusi tidak ada, bau pernapasan normal.
Tenggorokan : tonsil T1/T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis
Leher : trakea letak di tengah, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan tidak ada kaku kuduk.
Dada : bentuk simetris, ada retraksi di suprasternal, intercostal, dan xypoid.
Paru : Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris kiri = kanan
Palpasi : Stem fremitus kiri = kanan
Perkusi : Sonor kiri = kanan
Auskultasi :Suara pernafasan bronkovesikuler kasar, ronkhi +/+, wheezing +/+
Jantung : denyut jantung 132 x/menit, iktus kordis tidak tampak, batas kiri jantung di linea midclavicularis sinistra, batas kanan jantung di linea parasternal dextra, batas atas jantung di ICS II-III, tidak ada bising.
Abdomen : datar, lemas, bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba.
Genitalia : laki-laki normal
Kelenjar : tidak ada pembesaran
Anggota gerak : akral hangat, CRT<2”
Tulang-belulang : tidak ada deformitas
Otot : eutrofi
Refleks-refleks : Refleks Fisiologis (+/+) normal , Refleks Patologis (-/-)
Laboratorium
Malaria : - Eritrosit : 4,41 juta/mm3
Hemoglobin : 12 gr/dl MCV : 85,38 H µm3
Hematokrit : 37,68 % MCH : 27,91 H pg
Leukosit : 12.260 /mm3 MCHC : 32,70 H g/dl
Trombosit : 289.000/mm3
Resume Masuk
Penderita ♂3 6/12 tahun, BB 13 kg, TB 93 cm, masuk rumah sakit tanggal 7 Maret 2011 jam 15.00 WITA.
Keluhan utama : sesak, batuk, dan demam sejak kurang lebih 1 hari sebelum masuk rumah sakit.
Keadaan umum : Tampak sakit, Kesadaran: compos mentis
T: 90/60 mmHg, N: 132 x/m, RR : 48 x/m, Suhu badan 38,60C
Kepala : Konjungtiva anemis (-), sclera ikterus (-), PCH (+)
Thoraks : Simetris, retraksi (+) IC, SC, xypoid
pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler kasar, ronkhi +/+, wheezing +/+
cor : dalam batas normal
Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba
Extremitas : Akral hangat, CRT < 2”
Diagnosis Sementara
Bronkopneumonia dengan asma bronkial episodik jarang serangan berat
Penatalaksanaan
· O2 2-4 l/m
· Istirahat di tempat tidur
· Posisi semi fowler atau setengah duduk
· IVFD D5% 500ml + 70,5 mg aminofilin (Darrow) 46ml/jam = 15-16 gtt/mnt
· Bolus perlahan aminofilin 78mg dalam 20cc NaCl 0,9%
· Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv (skin test)
· Injeksi gentamisin 3 x 2,2 mg iv
· Nebulasi combivent 1 ampul + NaCl 2,5 cc
· Paracetamol supposutoria 125 mg
· Oral aff sementara
Rencana
X-foto thorax
Follow Up
8 Maret 2011
Keluhan : panas (-), sesak (+), batuk (+)
Keadaan umum : tampak sakit
Kesadaran : compos mentis
T = 100/60mmHg N = 120 x/m R = 36 x/m S = 36oC
Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)
Thorax : simetris, retraksi (+) intercostal
Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler kasar, ronkhi +/+, wheezing +/+ ↓
Cor : bising (-)
Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”
Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang post serangan berat.
Terapi : - O2 2-4 l/m (kalau perlu)
- IFVD D5% + 70,5 mg aminofilin (darrow) 15 – 16 gtt/mnt
- Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv
- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv
- Injeksi dexamethason 3 x 2,2 mg iv
- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv
- Nebulisasi combivent 1 ampul / 6jam
Hasil X-Ftoto Thoraks : gambaran paru menunjukkan bercak berawan dengan batas tidak jelas.
9 Maret 2011
Keluhan : panas (-), sesak (+), batuk (+) mulai berkurang
Keadaan umum : tampak sakit
Kesadaran : compos mentis
T = 100/60mmHg N = 136 x/m R = 32 x/m S = 36,6oC
Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)
Thorax : simetris, retraksi (+) intercostal minimal
Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+ minimal , wheezing +/+ minimal
Cor : bising (-)
Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”
Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan
Terapi : - O2 1-2 l/m (kalau perlu)
- IFVD NaCl 0,45% dalam D5% à 8 gtt/mnt
- Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv
- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv
- Injeksi dexamethason 3 x 2,2 mg iv
- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv
- Nebulisasi combivent 1 ampul / 6jam
10 Maret 2011
Keluhan : panas (-), sesak (-), batuk (+) berlendir, intake oral cukup
Keadaan umum : tampak sakit
Kesadaran : compos mentis
T = 100/60mmHg N = 123 x/m R = 32 x/m S = 36,6oC
Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)
Thorax : simetris, retraksi (-)
Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+ minimal , wheezing +/+ minimal
Cor : bising (-)
Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”
Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan
Terapi : - O2 1-2 l/m (kalau perlu)
- IFVD NaCl 0,45% dalam D5% à 8 gtt/mnt
- Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv
- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv
- Injeksi dexamethason 3 x 2,2 mg iv
- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv
- Nebulisasi combivent 1 ampul + 2,5cc NaCl 0,9% per 8 jam
11 Maret 2011
Keluhan : panas (-), sesak (-), batuk (+) lendir ↓, muntah 1 kali saat batuk
Keadaan umum : tampak sakit
Kesadaran : compos mentis
T = 90/60mmHg N = 120x/m R = 30 x/m S = 36,5oC
Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)
Thorax : simetris, retraksi (-)
Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+ minimal , wheezing -/-
Cor : bising (-)
Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”
Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan
Terapi : - Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv
- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv
- Injeksi dexamethason 3 x 2,2 mg iv
- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv
- Nebulisasi combivent 1 ampul + 2,5cc NaCl 0,9% per 12 jam
12 Maret 2011
Keluhan : panas (-), sesak (-), batuk ↓, muntah (-)
Keadaan umum : tampak sakit
Kesadaran : compos mentis
T = 100/60mmHg N = 108 x/m R = 28 x/m S = 36,8oC
Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)
Thorax : simetris, retraksi (-)
Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+ minimal , wheezing -/-
Cor : bising (-)
Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”
Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan
Terapi : - Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv
- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv
- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv
- Nebulisasi combivent 1 ampul
13 Maret 2011
Keluhan : panas (-), sesak (-), batuk berkurang, muntah (-)
Keadaan umum : tampak sakit
Kesadaran : compos mentis
T = 100/60mmHg N = 100 x/m R = 28 x/m S = 36,7oC
Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)
Thorax : simetris, retraksi (-)
Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+ minimal , wheezing -/-
Cor : bising (-)
Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”
Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan
Terapi : - Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv
- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv
- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv
- Nebulisasi combivent 1 ampul
14 Maret 2011
Keluhan : panas (-), sesak (-), batuk (-), muntah (-)
Keadaan umum : tampak sakit
Kesadaran : compos mentis
T = 90/60mmHg N = 96 x/m R = 24 x/m S = 36,3oC
Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)
Thorax : simetris, retraksi (-)
Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Cor : bising (-)
Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”
Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan
Terapi : - azithromycin pulv 2 x 185 mg pulv
- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv
- pulang
Penegakan diagnosis pada penderita ini didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Dari anamnesis diketahui pasien seorang laki-laki, berumur 3 tahun 6 bulan, bangsa Indonesia, datang dengan keluhan sesak sejak kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit, tidak disertai dengan bengkak pada wajah, kelopak mata, atau pada kedua tungkai, juga tidak disertai kebiruan pada ujung jari maupun mulut, bertambah berat pada malam hari dan bila penderita dalam posisi berbaring, sehingga penderita dalam posisi duduk. Demam sejak kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit, teraba tinggi dan turun bila diberi obat penurun panas, tidak disertai dengan kejang maupun penurunan kesadaran, tanpa menggigil, tidak ada riwayat keluar darah dari hidung dan telinga, tidak ada perdarahan gusi atau bintik-bintik merah di kulit. Batuk dialami kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit, berlendir dan sukar dikeluarkan. Ada riwayat sesak napas sebelumnya tiga bulan lalu.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum penderita tampak sakit namun kesadaran masih compos mentis, dengan tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 132 x/m, repirasi 48 x/m, dan suhu badan 38,60C. Ada pernafasan cuping hidung. Pada pemeriksaan thoraks ditemukan adanya retraksi di daerah suprasternal, intercostal, dan xypoid. Pada auskultasi pulmo didengar suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+, wheezing +/+.
Dari pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah lengkap diketahui hemoglobin : 12 gr/dl, hematokrit : 37,68 %, leukosit : 12.260 /mm3, dan trombosit : 289.000/mm3. Hasil X-Foto thoraks menunjukkan adanya gambaran bercak berawan dengan batas tidak jelas pada paru-paru.
Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menjelaskan tentang gejala dan tanda yang didapati dalam bronkopneumonia dan asma bronkial episodik jarang serangan berat.
Dari umur, jenis kelamin dan suku bangsa penderita secara epidemiologi sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa bronkopneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah di negara berkembang termasuk Indonesia, dimana insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun.3,4 Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 8-10% pada anak dan 3-5% pada dewasa dan pada usia kanak-kanak terdapat predisposisi laki-laki : perempuan adalah 2 : 1. Pada asma dengan episodik jarang merupakan 70–75% dari populasi asma anak. Biasanya terdapat pada anak umur 3–6 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran napas atas.5,7
Gambaran klinis bronkopneumonia dari anamnesis diketahui panas, batuk, dan sesak, dan biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari. Anak sangat gelisah, dispnea, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis di sekitar hidung dan mulut. Batuk biasanya tidak dijumpai pada awal penyakit,anak akan mendapat batuk setelah beberapa hari, di mana pada awalnya berupa batuk kering kemudian menjadi produktif.1,9,10,11
Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisik tergantung pada luasnya daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak dijumpai adanya kelainan. Pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronki basah gelembung halus sampai sedang. Tanpa pengobatan biasanya proses penyembuhan dapat terjadi antara 2-3 minggu. Pada pemeriksaan X-foto thoraks menunjukkan gambaran bercak berawan dengan batas tidak jelas.1,9,10,12
Pemeriksaan laboratorium pada bronkopneumonia dapat ditemukan :9,11
- Gambaran darah menunjukkan leukositosis. Jumlah leukosit yang tidak meningkat berhubungan dengan infeksi virus atau mycoplasma.
- Nilai Hb biasanya tetap normal atau sedikit menurun.
- Peningkatan LED.
- Kultur dahak dapat positif pada 20 – 50% penderita yang tidak diobati. Selain kultur dahak , biakan juga dapat diambil dengan cara hapusan tenggorok.
- Analisa gas darah( AGDA ) menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia. Pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis metabolik.
WHO mengajukan pedoman diagnosa dan tata laksana yang lebih sederhana. Berdasarkan pedoman tersebut bronkopneumonia dibedakan berdasarkan :1,9
• Bronkopneumonia sangat berat : Bila terjadi sianosis sentral dan anak tidak sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.
• Bronkopneumonia berat : Bila dijumpai adanya retraksi, tanpa sianosis dan masih sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.
• Bronkopneumonia : Bila tidak ada retraksi tetapi dijumpai pernafasan yang cepat :
> 60 x/menit pada anak usia < 2 bulan
> 50 x/menit pada anak usia 2 bulan – 1 tahun
> 40 x/menit pada anak usia 1 - 5 tahun.
• Bukan bronkopenumonia :
Hanya batuk tanpa adanya tanda dan gejala seperti diatas, tidak perlu dirawat dan tidak perlu diberi antibiotika.
Sesuai dengan kepustakaan diatas, penderita ini didiagnosis dengan bronkopneumonia berat karena dijumpai adanya panas, batuk, sesak, retraksi, tanpa sianosis, sehingga diindikasikan untuk dirawat di rumah sakit, walaupun hasil laboratorium darah kurang khas.
Penegakan diagnosis asma didasarkan pada anamnesis, tanda-tanda klinik dan
pemeriksaan tambahan.5,7
1. Pemeriksaan anamnesis keluhan episodik batuk kronik berulang, mengi, sesak dada, kesulitan bernafas,
2. Faktor pencetus (inciter) dapat berupa iritan (debu), pendinginan saluran nafas, alergen dan emosi, sedangkan perangsang (inducer) berupa kimia, infeksi dan alergen.
3. Pemeriksaan fisik sesak nafas (dyspnea), mengi, nafas cuping hidung pada saat inspirasi (anak), bicara terputus putus, agitasi, hiperinflasi toraks, lebih suka posisi duduk. Tanda-tanda lain sianosis, ngantuk, susah bicara, takikardia dan hiperinflasi torak.
4. Pemeriksaan uji fungsi paru sebelum dan sesudah pemberian metakolin atau bronkodilator sebelum dan sesudah olahraga dapat membantu menegakkan diagnosis asma.
Pedoman pelayanan medik dalam konsensus nasional membagi asma anak menjadi tiga tingkatan berdasarkan kriteria derajat klinis asma pada anak.5
| Parameter klinis kebutuhan obat dan faal paru | Asma episodik jarang (asma ringan) | Asma episodik sering (asma sedang) | Asma persisten (asma berat) |
| 1.Frekuensi serangan | < dari 1x/bulan | > dari 1x/bulan | Sering |
| 2. Lamanya Serangan | < 1 minggu | > 1 minggu | Hampir sepanjang tahun, tidak ada remisi |
| 3. Intensitas Serangan | Biasanya ringan | Biasanya sedang | Biasanya berat |
| 4.Diantara serangan | Tanpa gejala | Sering ada gejala | Gejala siang dan malam |
| 5. Tidur dan Aktivitas | Tidak terganggu | Sering terganggu | Sangat terganggu |
| 6.Pemeriksaan fisik luar serangan | Normal | Mungkin Terganggu | Tidak pernah Normal |
| 7.Obat pengendali (anti inflamasi) | Tidak perlu | Perlu | Perlu |
| 8. Faal paru diluar Serangan | PEF/PEVI>80% | PEF/PEVI 60-80% | PEV/FEVI<60% Variabilitas20-30% |
| 9. Faal paru pada saat serangan | Variabilitas >15% | Variabilitas >30% | Variabilitas >50% |
- Asma episodik jarang
Golongan ini merupakan 70–75% dari populasi asma anak. Biasanya terdapat pada anak umur 3–6 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran napas atas. Banyaknya serangan 3–4 kali dalam satu tahun. Lamanya serangan paling lama hanya beberapa hari saja dan jarang merupakan serangan yang berat. Gejala-gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari. Mengi dapat berlangsung sekitar 3–4 hari dan batuknya dapat berlangsung 10–14 hari. Waktu remisinya bermingu-minggu sampai berbulan-bulan. Manifestasi alergi lainnya misalnya eksim jarang didapatkan. Tumbuh kembang anak biasanya baik. Di luar serangan tidak ditemukan kelainan lain.
2. Asma episodik sering
Golongan ini merupakan 20% dari populasi asma anak. Pada dua pertiga golongan ini serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan, serangan berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan atas. Pada umur 5–6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkannya dengan perubahan udara, adanya alergen, aktivitas fisik dan stress. Banyaknya serangan 3−4 kali dalam satu tahun dan tiap kali serangan beberapa hari sampai beberapa minggu. Frekuensi serangan paling banyak pada umur 8−13 tahun. Pada golongan lanjut kadang-kadang sukar dibedakan dengan golongan asma kronik atau persisten. Umumnya gejala paling buruk terjadi pada malam hari dengan batuk dan mengi yang dapat mengganggu tidur. Pemeriksaan fisik di luar serangan tergantung pada frekuensi serangan. Jika waktu serangan lebih dari 1−2 minggu, biasanya tidak ditemukan kelainan fisik. Hay fever dan eksim dapat ditemukan pada golongan ini. Pada golongan ini jarang ditemukan gangguan pertumbuhan.
3. Asma kronik atau persisten
Pada 25% anak serangan pertama terjadi sebelum umur 6 bulan, 75% sebelum umur 3 tahun. Pada 50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan pada 50% sisanya serangan episodik. Pada umur 5−6 tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi saluran napas yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari. Dari waktu ke waktu terjadi serangan yang berat dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Obstruksi jalan napas mencapai puncaknya pada umur 8–14 tahun.
Selain berdasarkan gejala klinis di atas, asma dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat serangan asma yaitu:5,8
| Parameter klinis | Ringan | Sedang | Berat | Ancaman henti napas |
| Sesak | Berjalan Bayi : tangis keras | Berbicara Bayi : tangis pendek dan lemah, kesulitan menetek dan makan | Istirahat Bayi : tidak mau makan / minum | |
| Posisi | Bisa berbaring | Lebih suka duduk | Duduk bertopang lengan | |
| Bicara | Kalimat | Penggal kalimat | Kata-kata | |
| Kesadaran | Mungkin irritable | Biasanya iritable | Biasanya iritable | Kebingungan |
| Sianosis | Tidak ada | Tidak ada | Ada | Nyata |
| Wheezing | Sedang, sering hanya pada akhir ekspirasi | Nyaring, sepanjang ekspirasi. ± inspirasi | Sangat nyaring, terdengar tanpa stetoskop | Sulit / tidak terdengar |
| Penggunaan otot bantu respiratorik | Biasanya tidak | Biasanya ya | Ya | Gerakan paradok torako-abdominal |
| Retraksi | Dangkal, retraksi interkostal | Sedang, ditambah retraksi suprasternal | Dalam, ditambah nafas cuping hidung | Dangkal / hilang |
| Frekuensi nafas | Takipnu | Takipnu | Takipnu | Bradipnu |
| Frekuensi nadi | Normal | Takikardi | Takikardi | Radikardi |
Penderita ini juga didiagnosis dengan asma bronkial karena sesuai dengan kepustakaan didapatkan penderita sesak dan batuk, kakak penderita juga menderita penyakit asma bronkial, pada pemeriksaan fisik paru ada bunyi wheezing. Didiagnosis dengan episodik jarang karena banyaknya serangan 3–4 kali dalam satu tahun atau kurang dari satu kali dalam sebulan, dimana serangan sebelumnya pada tiga bulan yang lalu. Selain itu gejala-gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari dan di luar serangan tidak ditemukan kelainan lain. Didiagnosis juga dengan asma serangan berat karena didapatkan penderita berposisi duduk dan bertopang tangan, ada pernapasan cuping hidung, ada retraksi, takikardi dan takipnu, serta wheezing yang sangat nyaring.
Menurut kepustakaan penatalaksaan pada bronkopneumonia berat adalah istirahat di tempat tidur, posisi semi fowler atau setngah duduk, pemberian oksigen, IVFD bila sianosis atau tidak dapat minum, kompres dingin atau pemberian antipiretika, nebulisasi dengan β2 agonis dan atau NaCl untuk memperbaiki mucocilliary clearance, dan pemberian medikamentosa berupa antibiotika intravena.4,9,10 Penatalaksanaan asma serangan berat adalah pemberian oksigen 2-4 l/m, posisi setengah duduk, IVFD, dan medikamentosa.9,12
Penatalaksaan yang dilakukan pada penderita ini saat masuk rumah sakit adalah pemberian O2 2-4 l/m, istirahat di tempat tidur, posisi semi fowler atau setngah duduk, IVFD D5% 500ml + 70,5 mg aminofilin (Darrow) 46ml/jam = 15-16 gtt/mnt, bolus perlahan aminofilin 78mg dalam 20cc NaCl 0,9%, injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv (skin test), injeksi gentamisin 3 x 2,2 mg iv, nebulasi combivent 1 ampul + NaCl 2,5 cc, bolus perlahan aminofilin 78mg dalam 20cc NaCl 0,9%, paracetamol supposutoria 125 mg, dan oral aff sementara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar