Kamis, 06 Oktober 2011

BRONKOPNEUMONIA DENGAN ASMA BRONKIAL EPISODIK JARANG SERANGAN BERAT

PENDAHULUAN

Pneumonia adalah peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh infeksi akut, biasanya disebabkan oleh bakteri yang mengakibatkan adanya konsolidasi sebagian dari salah satu atau kedua paru. Bronkopneumonia sebagai penyakit yang menimbulkan gangguan pada sistem pernafasan, merupakan salah satu bentuk pneumonia yang terletak pada alveoli paru. Bronkopneumonia adalah peradangan pada paru dimana proses peradangannya ini menyebar membentuk bercak-bercak infiltrat yang berlokasi di alveoli paru dan dapat pula melibatkan bronkiolus terminal.1

Bronkopneumonia lebih sering menyerang bayi dan anak kecil. Hal ini dikarenakan respon imunitas mereka masih belum berkembang dengan baik. Tercatat bakteri sebagai penyebab tersering bronkopneumonia pada bayi dan anak adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae.1,2

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada Balita di Indonesia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1986 menunjukkan bahwa ISPA merupakan 42,4% dan angka kesakitan pada bayi dan 40.6% pada anak usia 1-4 tahun. Dan semua penyebab kematian karena ISPA pada bayi adalah 12.4% dan pada usia 1-4 tahun adalah 8.4%. Sedangkan menurut SKRT tahun 1992 ISPA menempati urutan pertama penyebab kematian bayi yaitu 36%, dan pada anak 1-4 tahun merupakan penyebab kematian kedua setelah diare yaitu 17%. Dan seluruh penderita di Unit Rawat Jalan di Bagian Anak pada bebempa rumah sakit di Indonesia. ISPA merupakan penyakit utama yaitu di Palembang 40.8%. Manado 43,2% dan Semarang 64.5%. Angka ini tidak jauh berbeda dengan data penderita rawat jalan di Pus kesmas yaitu ISPA merupakan 40-60% dan seluruh penderita.3

Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang menjadi masalah di berbagai negara terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan di Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi pada anak di bawah umur 2 tahun. Pneumonia menyebabkan lebih dari 5 juta kematian pertahun pada anak balita di negara berkembang.4

Anak dengan daya tahan terganggu akan menderita bronkopneumoni berulang atau bahkan bisa anak tersebut tidak mampu mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Selain faktor imunitas, faktor iatrogen juga memacu timbulnya penyakit ini, misalnya trauma pada paru, anestesia, pengobatan dengan antibiotika yang tidak sempurna. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan yang mencolok walaupun ada berbagai kemajuan dalam bidang antibiotik. Hal di atas disebabkan oleh munculnya organisme nosokomial (didapat dari rumah sakit) yang resisten terhadap antibiotik. Adanya organisme-organisme baru dan penyakit seperti AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yang semakin memperluas spektrum dan derajat kemungkinan terjadinya bronkopneumonia ini.1

Asma merupakan penyakit respiratorik kronik yang paling sering ditemukan, terutama dinegara maju. Penyakit ini pada umumnya dimulai sejak masa anak-anak. Asma merupakan suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu yang meyebabkan peradangan. Biasanya penyempitan ini sementara, penyakit ini paling banyak menyerang anak dan berpotensi untuk menggangu pertumbuhan dan perkembangan anak.5 Nelson mendefinisikan asma sebagai kumpulan tanda dan gejala wheezing (mengi) dan atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut: timbul secara episodik dan atau kronik, cenderung pada malam hari/dini hari (nocturnal), musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik dan bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien/keluarganya, sedangkan sebab-sebab lain sudah disingkirkan.6

Serangan asma bervariasi dari yang ringan sampai yang berat dan mengancam kehidupan. Berbagai faktor dapat menjadi faktor pencetus timbulnya serangan asma, dimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi prevalensi asma, terjadinya serangan asma, berat ringannya serangan, status asma dan kematian karena penyakit asma.5

Penelitian epidemiologi di berbagai negara mengenai prevalensi asma menunjukkan angka yang sangat bervariasi. Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 8-10% pada anak dan 3-5% pada dewasa, dan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 50%. Pada usia kanak-kanak terdapat predisposisi laki-laki : perempuan adalah 2 : 1 yang kemudian menjadi sama pada usia 30 tahun.7

Konsep terkini patogenesis asma yaitu asma merupakan suatu proses inflamasi kronik yang khas, melibatkan dinding saluran respiratorik, menyebabkan terbatasnya aliran udara dan peningkatan reaktivitas saluran napas. Hiperreaktivitas ini merupakan predisposisi terjadinya penyempitan saluran respiratorik sebagai respons terhadap berbagai macam rangsangan. Gambaran khas adanya inflamasi saluran respiratorik adalah aktivasi eosinofil, sel mast, makrofag, dan sel limfosit T pada mukosa dan lumen saluran respiratorik. Perubahan ini dapat terjadi meskipun asmanya tidak bergejala. Permunculan sel-sel tersebut secara luas berhubungan dengan derajat beratnya penyakit secara klinis.5

Pelayanan kesehatan anak terpadu dan holistik adalah pendekatan yang paling tepat dalam penanganan penyakit asma. Hal ini meliputi aspek promotif (peningkatan), preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan) dan rehabilitatif (pemulihan) yang dilaksanakan secara holistik (paripurna) untuk mencapai tumbuh kembang anak yang optimal.5

LAPORAN KASUS

M, seorang anak laki-laki suku Minahasa, agama kristen Protestan, umur 3 tahun 6 bulan, berat badan 13 kg, panjang badan 93 cm, alamat Ranotana Woru Lingkungan IX, masuk Rumah Sakit Umum Prof. Dr. R. D. Kandou pada tanggal 07 Maret 2011, pukul 15.00 wita, dengan keluhan utama: sesak, demam dan batuk sejak kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit.

Anamnesis Utama

(diberikan oleh ibu penderita)

Sesak dialami oleh pasien sejak kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit. Sesak tidak disertai dengan bengkak pada wajah atau kelopak mata, atau bengkak pada kedua tungkai, juga tidak disertai kebiruan pada ujung jari maupun mulut. Sesak bertambah berat pada malam hari dan bila penderita dalam posisi berbaring, sehingga penderita dalam posisi duduk. Demam dialami penderita sejak kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit. Demam teraba tinggi dan turun bila diberi obat penurun panas, kemudian demam timbul lagi. Demam tidak disertai dengan kejang maupun penurunan kesadaran, dan tanpa menggigil. Pada saat demam tidak ada riwayat keluar darah dari hidung maupun telinga, juga tidak ada perdarahan gusi atau bintik-bintik merah di kulit. Batuk juga dialami oleh penderita kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit. Batuk berlendir dan lendir sukar dikeluarkan. Mual dan muntah disangkal.

Buang air besar dan buang air kecil biasa.

Anamnesis Ante Natal dan Kelahiran

Selama hamil ibu penderita melakukan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas terdekat secara teratur sebanyak sembilan kali dan mendapat imunisasi Tetanus Toxoid satu kali. Selama hamil ibu penderita dalam keadaan sehat. Penderita lahir di Puskesmas ditolong oleh bidan secara spontan dengan letak belakang kepala, cukup bulan, langsung menangis, dengan berat badan lahir 3300 gram.

Penyakit yang sudah pernah dialami

Morbili : (-)

Varicella : (-)

Pertusis : (-)

Diare : (-)

Cacing : (-)

Batuk/pilek : (+)

Penderita pernah dirawat di RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou Manado dengan diagnosis Malaria pada tahun 2009. Penderita mempunyai riwayat asma sebelumnya tiga bulan lalu. Penderita juga mempunyai riwayat alergi debu.

Kepandaian dan Kemajuan

Pertama kali membalik : 4 bulan

Pertama kali tengkurap : 4 bulan

Pertama kali duduk : 5 bulan

Pertama kali merangkak : 6 bulan

Pertama kali berdiri : 10 bulan

Pertama kali berjalan : 12 bulan

Pertama kali tertawa : 4 bulan

Pertama kali berceloteh : 5 bulan

Pertama kali memanggil mama/papa : 8 bulan

Anamnesis Makanan

ASI : lahir – 2 tahun

PASI : lahir – 6 bulan

Bubur susu : 6 bulan – 8 bulan

Bubur saring : 8 bulan – 12 bulan

Bubur lunak : 12 bulan – 18 bulan

Nasi lembek : 18 bulan – sekarang

Riwayat Imunisasi

BCG :1x

Polio : 3x

DPT : 3x

Campak : 1x

Hepatitis : 2x

Riwayat keluarga

Ayah penderita berusia 37 tahun, pekerjaan wiraswasta dengan pendidikan terakhir SMA. Ibu penderita berusia 36 tahun, pekerjaan wiraswasta dengan pendidikan terakhir SMA. Penderita merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Kakak kedua penderita meninggal umur 9 tahun karena kecelakaan. Kakak penderita pernah menderita asma.


Keadaan Sosial, Ekonomi, Kebiasaan dan Lingkungan

Penderita tinggal dirumah permanen, beratap seng, berdiding beton, berlantai tehel, terdiri dari 3 buah kamar tidur, dihuni oleh 2 orang dewasa dan 2 orang anak. Kamar mandi dan WC didalam rumah, sumber air minum dari sumur, sumber penerangan listrik PLN, dan penanganan sampah dibuang dan dibakar.

Pemeriksaan Fisik

Berat badan : 13 kg

Panjang badan : 93 cm

Keadaan umum : tampak sakit

Kesadaran : compos mentis

Gizi : baik

Tanda vital : T = 90/60 mmHg, N = 132 x/menit,

R = 48 x/menit, S = 38,60C.

Kulit : warna kulit sawo matang, effloresensi, pigmentasi, jaringan parut dan edema tidak ada, lapisan lemak cukup, turgor kembali cepat, tonus otot normal.

Kepala : bentuk mesosefal, ubun-ubun besar menutup, rambut hitam tidak mudah dicabut.

Mata : mata tidak exophthalmus atau enophthalmus , tekanan bola mata normal pada perabaan, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, refleks kornea +/+ normal, pupil bulat isokor ø 3mm-3mm, refleks cahaya +/+ normal, lensa jernih, fundus dan visus tidak dievaluasi, gerakan normal, mata tidak cowong , air mata (+).

Telinga : sekret tidak ada

Hidung : septum tidak deviasi, epistaksis tidak ada, sekret tidak ada, PCH (+)

Mulut : bibir tidak sianosis, lidah kotor tidak ada, gigi tidak karies perdarahan gusi tidak ada, bau pernapasan normal.

Tenggorokan : tonsil T1/T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis

Leher : trakea letak di tengah, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan tidak ada kaku kuduk.

Dada : bentuk simetris, ada retraksi di suprasternal, intercostal, dan xypoid.

Paru : Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris kiri = kanan

Palpasi : Stem fremitus kiri = kanan

Perkusi : Sonor kiri = kanan

Auskultasi :Suara pernafasan bronkovesikuler kasar, ronkhi +/+, wheezing +/+

Jantung : denyut jantung 132 x/menit, iktus kordis tidak tampak, batas kiri jantung di linea midclavicularis sinistra, batas kanan jantung di linea parasternal dextra, batas atas jantung di ICS II-III, tidak ada bising.

Abdomen : datar, lemas, bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba.

Genitalia : laki-laki normal

Kelenjar : tidak ada pembesaran

Anggota gerak : akral hangat, CRT<2”

Tulang-belulang : tidak ada deformitas

Otot : eutrofi

Refleks-refleks : Refleks Fisiologis (+/+) normal , Refleks Patologis (-/-)

Laboratorium

Malaria : - Eritrosit : 4,41 juta/mm3

Hemoglobin : 12 gr/dl MCV : 85,38 H µm3

Hematokrit : 37,68 % MCH : 27,91 H pg

Leukosit : 12.260 /mm3 MCHC : 32,70 H g/dl

Trombosit : 289.000/mm3

Resume Masuk

Penderita ♂3 6/12 tahun, BB 13 kg, TB 93 cm, masuk rumah sakit tanggal 7 Maret 2011 jam 15.00 WITA.

Keluhan utama : sesak, batuk, dan demam sejak kurang lebih 1 hari sebelum masuk rumah sakit.

Keadaan umum : Tampak sakit, Kesadaran: compos mentis

T: 90/60 mmHg, N: 132 x/m, RR : 48 x/m, Suhu badan 38,60C

Kepala : Konjungtiva anemis (-), sclera ikterus (-), PCH (+)

Thoraks : Simetris, retraksi (+) IC, SC, xypoid

pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler kasar, ronkhi +/+, wheezing +/+

cor : dalam batas normal

Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba

Extremitas : Akral hangat, CRT < 2

Diagnosis Sementara

Bronkopneumonia dengan asma bronkial episodik jarang serangan berat

Penatalaksanaan

· O2 2-4 l/m

· Istirahat di tempat tidur

· Posisi semi fowler atau setengah duduk

· IVFD D5% 500ml + 70,5 mg aminofilin (Darrow) 46ml/jam = 15-16 gtt/mnt

· Bolus perlahan aminofilin 78mg dalam 20cc NaCl 0,9%

· Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv (skin test)

· Injeksi gentamisin 3 x 2,2 mg iv

· Nebulasi combivent 1 ampul + NaCl 2,5 cc

· Paracetamol supposutoria 125 mg

· Oral aff sementara

Rencana

X-foto thorax

Follow Up

8 Maret 2011

Keluhan : panas (-), sesak (+), batuk (+)

Keadaan umum : tampak sakit

Kesadaran : compos mentis

T = 100/60mmHg N = 120 x/m R = 36 x/m S = 36oC

Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)

Thorax : simetris, retraksi (+) intercostal

Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler kasar, ronkhi +/+, wheezing +/+ ↓

Cor : bising (-)

Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba

Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”

Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang post serangan berat.

Terapi : - O2 2-4 l/m (kalau perlu)

- IFVD D5% + 70,5 mg aminofilin (darrow) 15 – 16 gtt/mnt

- Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv

- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv

- Injeksi dexamethason 3 x 2,2 mg iv

- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv

- Nebulisasi combivent 1 ampul / 6jam

Hasil X-Ftoto Thoraks : gambaran paru menunjukkan bercak berawan dengan batas tidak jelas.

9 Maret 2011

Keluhan : panas (-), sesak (+), batuk (+) mulai berkurang

Keadaan umum : tampak sakit

Kesadaran : compos mentis

T = 100/60mmHg N = 136 x/m R = 32 x/m S = 36,6oC

Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)

Thorax : simetris, retraksi (+) intercostal minimal

Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+ minimal , wheezing +/+ minimal

Cor : bising (-)

Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba

Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”

Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan

Terapi : - O2 1-2 l/m (kalau perlu)

- IFVD NaCl 0,45% dalam D5% à 8 gtt/mnt

- Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv

- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv

- Injeksi dexamethason 3 x 2,2 mg iv

- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv

- Nebulisasi combivent 1 ampul / 6jam

10 Maret 2011

Keluhan : panas (-), sesak (-), batuk (+) berlendir, intake oral cukup

Keadaan umum : tampak sakit

Kesadaran : compos mentis

T = 100/60mmHg N = 123 x/m R = 32 x/m S = 36,6oC

Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)

Thorax : simetris, retraksi (-)

Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+ minimal , wheezing +/+ minimal

Cor : bising (-)

Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba

Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”

Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan

Terapi : - O2 1-2 l/m (kalau perlu)

- IFVD NaCl 0,45% dalam D5% à 8 gtt/mnt

- Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv

- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv

- Injeksi dexamethason 3 x 2,2 mg iv

- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv

- Nebulisasi combivent 1 ampul + 2,5cc NaCl 0,9% per 8 jam

11 Maret 2011

Keluhan : panas (-), sesak (-), batuk (+) lendir ↓, muntah 1 kali saat batuk

Keadaan umum : tampak sakit

Kesadaran : compos mentis

T = 90/60mmHg N = 120x/m R = 30 x/m S = 36,5oC

Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)

Thorax : simetris, retraksi (-)

Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+ minimal , wheezing -/-

Cor : bising (-)

Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba

Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”

Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan

Terapi : - Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv

- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv

- Injeksi dexamethason 3 x 2,2 mg iv

- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv

- Nebulisasi combivent 1 ampul + 2,5cc NaCl 0,9% per 12 jam

12 Maret 2011

Keluhan : panas (-), sesak (-), batuk ↓, muntah (-)

Keadaan umum : tampak sakit

Kesadaran : compos mentis

T = 100/60mmHg N = 108 x/m R = 28 x/m S = 36,8oC

Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)

Thorax : simetris, retraksi (-)

Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+ minimal , wheezing -/-

Cor : bising (-)

Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba

Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”

Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan

Terapi : - Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv

- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv

- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv

- Nebulisasi combivent 1 ampul

13 Maret 2011

Keluhan : panas (-), sesak (-), batuk berkurang, muntah (-)

Keadaan umum : tampak sakit

Kesadaran : compos mentis

T = 100/60mmHg N = 100 x/m R = 28 x/m S = 36,7oC

Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)

Thorax : simetris, retraksi (-)

Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+ minimal , wheezing -/-

Cor : bising (-)

Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba

Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”

Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan

Terapi : - Injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv

- Injeksi gentamisin 2 x 40 mg iv

- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv

- Nebulisasi combivent 1 ampul

14 Maret 2011

Keluhan : panas (-), sesak (-), batuk (-), muntah (-)

Keadaan umum : tampak sakit

Kesadaran : compos mentis

T = 90/60mmHg N = 96 x/m R = 24 x/m S = 36,3oC

Kepala : conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), PCH (-)

Thorax : simetris, retraksi (-)

Pulmo : suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-

Cor : bising (-)

Abdomen : datar, lemas, BU (+) normal, hati dan limpa tidak teraba

Ekstremitas : akral hangat, CRT<2”

Diagnosis :bronkopneumonia + asma bronkial episodik jarang serangan ringan

Terapi : - azithromycin pulv 2 x 185 mg pulv

- Interpect 10 mg + trifed 1/3 tablet + ocuson 1/3 tablet + salbron 1,8 mg + intrisin 1/3 tablet à 3 x 1 pulv

- pulang

DISKUSI

Penegakan diagnosis pada penderita ini didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya.

Dari anamnesis diketahui pasien seorang laki-laki, berumur 3 tahun 6 bulan, bangsa Indonesia, datang dengan keluhan sesak sejak kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit, tidak disertai dengan bengkak pada wajah, kelopak mata, atau pada kedua tungkai, juga tidak disertai kebiruan pada ujung jari maupun mulut, bertambah berat pada malam hari dan bila penderita dalam posisi berbaring, sehingga penderita dalam posisi duduk. Demam sejak kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit, teraba tinggi dan turun bila diberi obat penurun panas, tidak disertai dengan kejang maupun penurunan kesadaran, tanpa menggigil, tidak ada riwayat keluar darah dari hidung dan telinga, tidak ada perdarahan gusi atau bintik-bintik merah di kulit. Batuk dialami kurang lebih satu hari sebelum masuk rumah sakit, berlendir dan sukar dikeluarkan. Ada riwayat sesak napas sebelumnya tiga bulan lalu.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum penderita tampak sakit namun kesadaran masih compos mentis, dengan tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 132 x/m, repirasi 48 x/m, dan suhu badan 38,60C. Ada pernafasan cuping hidung. Pada pemeriksaan thoraks ditemukan adanya retraksi di daerah suprasternal, intercostal, dan xypoid. Pada auskultasi pulmo didengar suara pernafasan bronkovesikuler, ronkhi +/+, wheezing +/+.

Dari pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah lengkap diketahui hemoglobin : 12 gr/dl, hematokrit : 37,68 %, leukosit : 12.260 /mm3, dan trombosit : 289.000/mm3. Hasil X-Foto thoraks menunjukkan adanya gambaran bercak berawan dengan batas tidak jelas pada paru-paru.

Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menjelaskan tentang gejala dan tanda yang didapati dalam bronkopneumonia dan asma bronkial episodik jarang serangan berat.

Dari umur, jenis kelamin dan suku bangsa penderita secara epidemiologi sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa bronkopneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah di negara berkembang termasuk Indonesia, dimana insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun.3,4 Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 8-10% pada anak dan 3-5% pada dewasa dan pada usia kanak-kanak terdapat predisposisi laki-laki : perempuan adalah 2 : 1. Pada asma dengan episodik jarang merupakan 70–75% dari populasi asma anak. Biasanya terdapat pada anak umur 3–6 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran napas atas.5,7

Gambaran klinis bronkopneumonia dari anamnesis diketahui panas, batuk, dan sesak, dan biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari. Anak sangat gelisah, dispnea, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis di sekitar hidung dan mulut. Batuk biasanya tidak dijumpai pada awal penyakit,anak akan mendapat batuk setelah beberapa hari, di mana pada awalnya berupa batuk kering kemudian menjadi produktif.1,9,10,11

Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisik tergantung pada luasnya daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak dijumpai adanya kelainan. Pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronki basah gelembung halus sampai sedang. Tanpa pengobatan biasanya proses penyembuhan dapat terjadi antara 2-3 minggu. Pada pemeriksaan X-foto thoraks menunjukkan gambaran bercak berawan dengan batas tidak jelas.1,9,10,12

Pemeriksaan laboratorium pada bronkopneumonia dapat ditemukan :9,11

  1. Gambaran darah menunjukkan leukositosis. Jumlah leukosit yang tidak meningkat berhubungan dengan infeksi virus atau mycoplasma.
  2. Nilai Hb biasanya tetap normal atau sedikit menurun.
  3. Peningkatan LED.
  4. Kultur dahak dapat positif pada 20 – 50% penderita yang tidak diobati. Selain kultur dahak , biakan juga dapat diambil dengan cara hapusan tenggorok.
  5. Analisa gas darah( AGDA ) menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia. Pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis metabolik.

WHO mengajukan pedoman diagnosa dan tata laksana yang lebih sederhana. Berdasarkan pedoman tersebut bronkopneumonia dibedakan berdasarkan :1,9

• Bronkopneumonia sangat berat : Bila terjadi sianosis sentral dan anak tidak sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.

• Bronkopneumonia berat : Bila dijumpai adanya retraksi, tanpa sianosis dan masih sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.

• Bronkopneumonia : Bila tidak ada retraksi tetapi dijumpai pernafasan yang cepat :
> 60 x/menit pada anak usia < 2 bulan

> 50 x/menit pada anak usia 2 bulan – 1 tahun

> 40 x/menit pada anak usia 1 - 5 tahun.

• Bukan bronkopenumonia :

Hanya batuk tanpa adanya tanda dan gejala seperti diatas, tidak perlu dirawat dan tidak perlu diberi antibiotika.

Sesuai dengan kepustakaan diatas, penderita ini didiagnosis dengan bronkopneumonia berat karena dijumpai adanya panas, batuk, sesak, retraksi, tanpa sianosis, sehingga diindikasikan untuk dirawat di rumah sakit, walaupun hasil laboratorium darah kurang khas.

Penegakan diagnosis asma didasarkan pada anamnesis, tanda-tanda klinik dan

pemeriksaan tambahan.5,7

1. Pemeriksaan anamnesis keluhan episodik batuk kronik berulang, mengi, sesak dada, kesulitan bernafas,

2. Faktor pencetus (inciter) dapat berupa iritan (debu), pendinginan saluran nafas, alergen dan emosi, sedangkan perangsang (inducer) berupa kimia, infeksi dan alergen.

3. Pemeriksaan fisik sesak nafas (dyspnea), mengi, nafas cuping hidung pada saat inspirasi (anak), bicara terputus putus, agitasi, hiperinflasi toraks, lebih suka posisi duduk. Tanda-tanda lain sianosis, ngantuk, susah bicara, takikardia dan hiperinflasi torak.

4. Pemeriksaan uji fungsi paru sebelum dan sesudah pemberian metakolin atau bronkodilator sebelum dan sesudah olahraga dapat membantu menegakkan diagnosis asma.

Pedoman pelayanan medik dalam konsensus nasional membagi asma anak menjadi tiga tingkatan berdasarkan kriteria derajat klinis asma pada anak.5

Parameter klinis

kebutuhan obat dan

faal paru

Asma episodik

jarang

(asma ringan)

Asma episodik

sering

(asma sedang)

Asma persisten

(asma berat)

1.Frekuensi serangan

< dari 1x/bulan

> dari 1x/bulan

Sering

2. Lamanya

Serangan

< 1 minggu

> 1 minggu

Hampir sepanjang tahun, tidak ada remisi

3. Intensitas

Serangan

Biasanya ringan

Biasanya sedang

Biasanya berat

4.Diantara serangan

Tanpa gejala

Sering ada gejala

Gejala siang dan malam

5. Tidur dan

Aktivitas

Tidak terganggu

Sering terganggu

Sangat terganggu

6.Pemeriksaan fisik

luar serangan

Normal

Mungkin

Terganggu

Tidak pernah

Normal

7.Obat pengendali

(anti inflamasi)

Tidak perlu

Perlu

Perlu

8. Faal paru diluar

Serangan

PEF/PEVI>80%

PEF/PEVI 60-80%

PEV/FEVI<60%

Variabilitas20-30%

9. Faal paru pada

saat serangan

Variabilitas

>15%

Variabilitas

>30%

Variabilitas

>50%

Konsensus International III juga membagi derajat penyakit asma anak berdasarkan keadaan klinis adalah sebagai berikut : 5,7

  1. Asma episodik jarang

Golongan ini merupakan 70–75% dari populasi asma anak. Biasanya terdapat pada anak umur 3–6 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran napas atas. Banyaknya serangan 3–4 kali dalam satu tahun. Lamanya serangan paling lama hanya beberapa hari saja dan jarang merupakan serangan yang berat. Gejala-gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari. Mengi dapat berlangsung sekitar 3–4 hari dan batuknya dapat berlangsung 10–14 hari. Waktu remisinya bermingu-minggu sampai berbulan-bulan. Manifestasi alergi lainnya misalnya eksim jarang didapatkan. Tumbuh kembang anak biasanya baik. Di luar serangan tidak ditemukan kelainan lain.

2. Asma episodik sering

Golongan ini merupakan 20% dari populasi asma anak. Pada dua pertiga golongan ini serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan, serangan berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan atas. Pada umur 5–6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkannya dengan perubahan udara, adanya alergen, aktivitas fisik dan stress. Banyaknya serangan 3−4 kali dalam satu tahun dan tiap kali serangan beberapa hari sampai beberapa minggu. Frekuensi serangan paling banyak pada umur 8−13 tahun. Pada golongan lanjut kadang-kadang sukar dibedakan dengan golongan asma kronik atau persisten. Umumnya gejala paling buruk terjadi pada malam hari dengan batuk dan mengi yang dapat mengganggu tidur. Pemeriksaan fisik di luar serangan tergantung pada frekuensi serangan. Jika waktu serangan lebih dari 1−2 minggu, biasanya tidak ditemukan kelainan fisik. Hay fever dan eksim dapat ditemukan pada golongan ini. Pada golongan ini jarang ditemukan gangguan pertumbuhan.

3. Asma kronik atau persisten

Pada 25% anak serangan pertama terjadi sebelum umur 6 bulan, 75% sebelum umur 3 tahun. Pada 50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan pada 50% sisanya serangan episodik. Pada umur 5−6 tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi saluran napas yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari. Dari waktu ke waktu terjadi serangan yang berat dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Obstruksi jalan napas mencapai puncaknya pada umur 8–14 tahun.

Selain berdasarkan gejala klinis di atas, asma dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat serangan asma yaitu:5,8

Parameter klinis

Ringan

Sedang

Berat

Ancaman henti napas

Sesak

Berjalan

Bayi : tangis keras

Berbicara

Bayi : tangis pendek dan lemah, kesulitan menetek dan makan

Istirahat

Bayi : tidak mau makan / minum

Posisi

Bisa berbaring

Lebih suka duduk

Duduk bertopang lengan

Bicara

Kalimat

Penggal kalimat

Kata-kata

Kesadaran

Mungkin irritable

Biasanya iritable

Biasanya iritable

Kebingungan

Sianosis

Tidak ada

Tidak ada

Ada

Nyata

Wheezing

Sedang, sering hanya pada akhir ekspirasi

Nyaring, sepanjang ekspirasi.

± inspirasi

Sangat nyaring, terdengar tanpa stetoskop

Sulit / tidak terdengar

Penggunaan otot bantu respiratorik

Biasanya tidak

Biasanya ya

Ya

Gerakan paradok

torako-abdominal

Retraksi

Dangkal, retraksi interkostal

Sedang, ditambah retraksi suprasternal

Dalam, ditambah nafas cuping hidung

Dangkal / hilang

Frekuensi nafas

Takipnu

Takipnu

Takipnu

Bradipnu

Frekuensi nadi

Normal

Takikardi

Takikardi

Radikardi

Penderita ini juga didiagnosis dengan asma bronkial karena sesuai dengan kepustakaan didapatkan penderita sesak dan batuk, kakak penderita juga menderita penyakit asma bronkial, pada pemeriksaan fisik paru ada bunyi wheezing. Didiagnosis dengan episodik jarang karena banyaknya serangan 3–4 kali dalam satu tahun atau kurang dari satu kali dalam sebulan, dimana serangan sebelumnya pada tiga bulan yang lalu. Selain itu gejala-gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari dan di luar serangan tidak ditemukan kelainan lain. Didiagnosis juga dengan asma serangan berat karena didapatkan penderita berposisi duduk dan bertopang tangan, ada pernapasan cuping hidung, ada retraksi, takikardi dan takipnu, serta wheezing yang sangat nyaring.

Menurut kepustakaan penatalaksaan pada bronkopneumonia berat adalah istirahat di tempat tidur, posisi semi fowler atau setngah duduk, pemberian oksigen, IVFD bila sianosis atau tidak dapat minum, kompres dingin atau pemberian antipiretika, nebulisasi dengan β2 agonis dan atau NaCl untuk memperbaiki mucocilliary clearance, dan pemberian medikamentosa berupa antibiotika intravena.4,9,10 Penatalaksanaan asma serangan berat adalah pemberian oksigen 2-4 l/m, posisi setengah duduk, IVFD, dan medikamentosa.9,12

Penatalaksaan yang dilakukan pada penderita ini saat masuk rumah sakit adalah pemberian O2 2-4 l/m, istirahat di tempat tidur, posisi semi fowler atau setngah duduk, IVFD D5% 500ml + 70,5 mg aminofilin (Darrow) 46ml/jam = 15-16 gtt/mnt, bolus perlahan aminofilin 78mg dalam 20cc NaCl 0,9%, injeksi ceftriaxone 1 x 1 gr iv (skin test), injeksi gentamisin 3 x 2,2 mg iv, nebulasi combivent 1 ampul + NaCl 2,5 cc, bolus perlahan aminofilin 78mg dalam 20cc NaCl 0,9%, paracetamol supposutoria 125 mg, dan oral aff sementara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar